Thursday, April 9, 2009

Pengalaman Memotret Rumah Pejabat Indonesia

Ketika berada di Indonesia kemarin, di minggu terakhir saya sempat mengunjungi Toraja dan Makassar. Toraja sangat indah dan udaranya sejuk, mengingatkan saya ke Bandung. Mirip tempatnya: hijau dan dikelilingi pegunungan. Namun sementara itu, kota Makassar ya ampun, panas sekali, 36 derajat celcius! Saya pun kelelahan dan tersiksa! Inginnya terus mandi saja dengan air dingin.

Ketika berada di Makassar saya tidak merasa bisa melihat banyak tempat menarik, kecuali suasana pantai laut dan peninggalan Belanda 'Benteng Port Rotterdam". Maka iseng-iseng, setelah keliling ke beberapa tempat di seputar kota untuk foto-foto beberapa bangunan tua, sang supir bertanya, apakah saya tertarik untuk melihat rumah Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI. Tentunya melihat rumah depannya saja dari seberang jalan.

Saya bilang: mau! Saya pun bertanya: boleh nggak yah saya foto rumah Jusuf Kalla? Sang sopir dengan logat Makassarnya yang khas menjawab: boleh saja, mengapa tidak?

Saya bersama satu teman Jerman saya kemudian turun dari mobil ketika berada percis di sebrang jalan rumah Jusuf Kalla. Rumahnya besar dan panjang, serta berpagar agak tinggi, sehingga tidak mudah memfotonya.

Karena namanya juga sedang berturis ria, saya dan teman saya sudah biasa berjepret-jepret memfoto beberapa bangunan tua dan tempat-tempat menarik. Sejauh itu lancar-lancar, tanpa masalah.

Tapi kali ini agak lain. Begitu selesai menjepret depan rumah Jusuf Kalla (dari seberang jalan, agak jauhan), saya dan teman langsung naik mobil lagi. dan begitu pantat berada di atas jok mobil, tiba-tiba seorang tentara penjaga rumah Jusuf Kalla sudah pula berada di sebelah mobil dan mengetok kaca:

'Maaf, untuk apa foto-foto itu'? Katanya sambil menenteng senjata, tetapi tidak ditodongkan ke kami.

Saya pun dengan sigap dan kalem menjawab:

"Maaf Pak, kami dari Universitas Bonn di Jerman. Saya dosen di sana. Dan ini mahasiswa saya dari universitas. Kami sedang keliling sehari melihat-lihat kota Makassar sebagai turis. Foto-foto kami untuk koleksi pribadi saja, bukan untuk apa-apa."

Si tentara penjaga yang masih muda belia itu pun rupanya percaya. Namun kemudian dia berkata lagi:

"Sebenarnya tidak boleh. Lain kali harus ada ijin, Bu!."

Tapi terus dia mempersilakan kami berangkat. Barangkali dia tidak melihat wajah mencurigakan pada saya maupun teman saya. Kebetulan juga Pak sopirnya nggak berwajah preman, melainkan berwajah ramah dan polos, serta berdialek asli Makassar.

Di jalan saya merenung: Duh, sudah sejak 4 minggu saya jepret-jepret rumah penduduk di hampir semua kawasan yang saya kunjungi. Apalagi di Toraja, sampai-sampai saya diajak masuk oleh penduduk asli untuk juga memfoto jenazah ayahnya yang sejak 1,5 tahun belum juga dikuburkan, karena belum cukup uang untuk pesta pemakaman. Nggak ada yang menyebut harus ada ijin segala. Tapi ternyata kalau menjepret rumah pejabat mesti ada ijin. Atau barangkali karena ini menjelang pemilu?

Mobil pun terus meluncur meninggalkan kawasan daerah rumah Jusuf Kalla. Di mana-mana saya lihat baligho besar berwarna kuning dengan gambar besar Jusuf Kalla. Partai Golkar ternyata masih besar. Selain di Sulsel, juga saya lihat di Kalbar yang saya kunjungi Golkar masih bertengger kuat.


1 comments:

A said...

keknya di Indonesia, smua peraturan malah bikin kita jadi nyolong-nyolong, sembunyi-sembunyi, manipulasi. ngajarin gak bener mbak wekekek...
salam kenal.

{ Template Design by Elque 2007 }