Kembali ke Bonn
Perjalanan intensif 4 minggu di Indonesia selama bulan Maret yang baru lalu sungguh mengesankan. Namun juga lumayan membuat badan capek sekali. Panas udara tanah air dicampur dengan udara dingin palsu dari Air Conditioner kereta api, hotel-hotel dan kantor-kantor yang saya kunjungi cukup membingungkan badan saya.
Maka begitu saya kembali ke Jerman, mulai memasuki pesawat di Jakarta badan saya langsung K.O. Langsung diserang batuk-batuk, masuk angin, pilek, dan perut bagian bawah sakit. Waduh repot, sampai malas sekali makan sajian yang disuguhkan para pramugari Emirates Airlines yang ramah-ramah itu. Untung saya pulang didampingi seorang teman baik, sehingga urusan angkut-angkut barang bisa dia tangani.
Selama di Indonesia, saya berkeinginan untuk mengunjungi seluruh kepulauan di Tanah Air. Ingin melihat kecantikan alam daerah-daerah dan pulau-pulau yang belum sempat saya kunjungi.
Tapi mana bisa? Untuk menjelajah seluruh negara Indonesia tidaklah bisa ditempuh hanya dalam tempo 4 minggu. Negara Indonesia nan luas dan yang panjangnya sedaratan seluruh negara di Eropa ini tidaklah mungkin ditelusuri dalam hitungan mingguan dan bulanan. Tapi pasti perlu beberapa tahunan. Perlu juga kesiapan tenaga yang fit.
Nah, cukuplah saya mengunjungi Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Selatan. Daratan dan lautan di daerah-daerah tersebut sempat saya kunjungi. Udara panas perkotaan maupun udara sejuk pegunungan dialami. Hutan pun sempat dikunjungi, terutama yang di kawasan Kalimantan Barat, walaupun sebatas hutan-hutan yang sudah berubah menjadi perkebunan Kelapa Sawit.
Apa kesimpulan saya setelah mengunjungi beberapa daerah tersebut? Saya semakin merasakan kegagahan tanah air tercinta. Juga merasakan tantangan kekuatan fisik tak terhingga. Kulit saya sudah tak terbiasa lagi diterjang sinar matahari yang begitu keras. Kalau tidak dilulur dulu dengan Sunblock, maka terasa kulit gatal-gatal seperti mengalami alergi.
Tak terbiasa pula hanya menggunakan air setelah buang air kecil atau buang air besar. Kalau tidak langsung menggunakan tisu pengering (toilet paper), maka merasa sedikit tidak nyaman. Oleh karena itu, kemana pun pergi, saya siap dengan tisu pengering gulung yang biasanya saya selipkan di tas.
Masih banyak yang masih ingin saya ceritakan. Tapi sampai di sini dulu. Saya perlu minum obat sejenak.

0 comments:
Post a Comment