Friday, May 22, 2009

Novel 'Laskar Pelangi'

Mungkin saya telat membaca novel "Laskar Pelangi" dari Andrea Hirata ini. Baru selesai membacanya kemarin. Itu pun sudah buku edisi yang ke-24, terbitan Oktober 2008.

Begitu mulai membaca halaman pertama, saya tak bisa berhenti. Saya kena magnet untuk terus menerus membacanya sampai selesai. Tanpa paksaan, tanpa keharusan. Membaca di hari Kamis, saat liburan Kenaikan Isa Al-Masih, mulai pagi hari dan selesai sore hari. Di tempat baca yang sama: di atas kasur, tempat tidur!

Saya begitu menikmati membaca novel bertemakan pendidikan anak-anak termarjinalkan di kota Belitong ini. Di tengah kenikmatan membacanya, kadang saya sangat emosional, sampai mengucurkan air mata.

Pertama-tama berkenalan dengan Laskar Pelangi adalah di toko buku Gramedia, ketika saya di Indonesia Maret yang lalu. Sengaja saya membeli beberapa film baru Indonesia yang saya anggap cukup bermutu. Informasinya saya dengar baik dari teman-teman, maupun dari membaca resensinya secara langsung dari internet.

Diantara tumpukan film yang baru saya beli, Laskar Pelangi garapan Riri Riza merupakan salah satu judul DVD yang saya peroleh dengan relatif cukup mudah. Tetapi novelnya tidak saya beli, melainkan saya pinjam dari perpustakaan jurusan Asia Tenggara, Universitas Bonn.

Kali ini saya menonton filmnya terlebih dahulu, dan kemudian membaca novelnya. Biasanya saya melakukan hal sebaliknya: membaca novelnya, baru menonton filmnya. Tetapi karena tidak saya sangka bahwa di perpustakaan jurusan ada novelnya, maka saya langsung menonton filmnya saja.

Saya bersyukur telah berkesempatan membaca novel dan menonton film Laskar Pelangi ini. Tema pendidikan di Indonesia selalu merupakan tema menarik untuk saya. Laskar pelangi menyajikan persoalan anak-anak yang termaginalkan, anak-anak miskin yang semangat bersekolah setinggi langit namun dengan fasilitas begitu minimnya. Guru-guru miskin yang berdedikasi tinggi karena bermodalkan cinta terhadap pendidikan. Namun tak ada keberpihakan di sini. Murid yang paling jenius di sekolah miskin ini akhirnya terdampakkan, dijauhkan kembali dari dunia pendidikan yang mestinya menjadi haknya. Bukan karena dia tak mampu, tetapi karena dia miskin. Suatu hal yang klasik terjadi di tanah air sejak sebelum merdeka.

Inilah tema yang selalu menyentuh, namun juga menyakitkan hati saya. Namun dalam Laskar pelangi cerita disajikan dengan begitu menarik, ceria, dan sepertinya alami.

Saya cukup terhibur juga dengan informasi yang diperoleh tentang novel Laskar Pelangi yang menjadi 'Bestseller' alias dibaca khalayak banyak di Indonesia. Namun saya sangat mengharapkan bahwa semua siswa, mahasiswa, guru, dosen, elite politik, maupun pejabat penting di Indonesia membaca buku Laskar Pelangi ini.

Masalah pendidikan di tanah air adalah masalah tanggung jawab bersama. Kita harus mampu mewujudkan impian anak-anak termiskin untuk juga bisa menikmati haknya yang palig azasi, yaitu: Memperoleh pendidikan dengan seluas-luasnya dan setinggi-tingginya!



0 comments:

{ Template Design by Elque 2007 }