Mathias Waldmeyer: Mahasiswa Untan Belajar Kewartawanan
Dengan rasa bangga, saya turunkan berikut ini sebuah artikel dari koran Borneo Tribune, Pontianak. Artikel ini terasa istimewa untuk saya, karena yang menulis adalah salah satu mahasiswa saya dari Universitas Jerman yang sekarang sedang melakukan magang di koran Borneo Tribune. Terasa istimewa, karena Mathias telah berhasil menulis artikel tersebut dalam Bahasa Indonesia. Tentu saja setelah dibantu dikoreksi oleh pihak redaksi Borneo Tribune. Bagus sekali, Mathias!
Tulisan selengkapnya:
Oleh Mathias Waldmeyer
Minggu (2/11) pagi Tim Borneo Tribune melatih 85 mahasiswa Universitas Tanjungpura (Untan) yang tergabung dalam Lisma untuk training kewartawanan. Tema yang diusung “The Power of Writing dan Menangkap Ide untuk Tulisan”.
Tim Borneo Tribune yang tampil dipimpin Pemimpin Redaksi H Nur Iskandar, SP didampingi Ketua Yayasan Tribune Institute, Dwi Syafriyanti, SH, MH dan ketiga tamu dari Bonn University, Jerman, Sina, Dorina dan saya. Mahasiswa-mahasiswi dari beberapa fakultas mendengarkan dengan penuh antusias.
Nur Iskandar menjelaskan kepada audien, bahwa penting sekali menulis karena menulis sama dengan mengabadikan. Ia mengutip pernyataan, “Scripta manen verba volent. Artinya tulisan abadi, ucapan menguap.”
Nuris, sapaannya menguak sejumlah bahan menarik untuk ide kepenulisan. Ia mengurai sejarah Kalbar, sejarah Indonesia dan sejarah umum untuk dimengerti dalam konteks sekarang yang terjadi sehari-hari. Dari sejarah, katanya, bisa membentuk masa dapan yang lebih baik. Nuris menguak pembunuhan massal di Mandor pada masa Jepang 1942-1945. Saat itu Kalbar kehilangan satu generasi.
Sesudah sesi presentasi mahasiswa-mahasiswi aktif bertanya selama 40 menit, misalnya tentang pemilihan judul-judul artikel, merangkai isi dan memberikan makna.
Pelatihan juga menghadirkan Dr Leo Sutrisno dalam teknik penulisan ilmiah populer. Acara ini sendiri dibuka Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Dr Edi Suratman.

0 comments:
Post a Comment