Nur Iskandar: Internship Program Mahasiswi Bonn University di Borneo Tribune, Menggali Keunikan Bahasa dan Budaya di Kalbar
Tulisan berikut "dicomot" dari koran Borneo Tribune, Pontianak. Ditulis oleh Pemred-nya, Mas Nur Iskandar.
Saya senang mengikuti perkembangan anak-anak didik mahasiswa saya di Universitas Bonn yang sedang magang di koran Borneo Tribune, Pontianak. Di bawah bimbingan Mas Nur Iskandar dan rekan-rekan di Borneo Tribune, program magang para mahasiswa Jerman yang belajar bahasa dan budaya Indonesia berjalan lancar.
Untuk belajar memahami bahasa serta budaya suatu bangsa memang akan lebih baik dipelajari langsung di negara yang bersangkutan. Salah satu medium yang bisa menjembatani tujuan tersebut adalah program magang/internship di negara yang bersangkutan.
Berikut tulisan selengkapnya:
Oleh:
Nur Iskandar
Borneo Tribune, Pontianak
Dedikasi Borneo Tribune dan Tribune Institute yang dipersembahkan buat kebanggaan masyarakat Kalimantan Barat bertambah satu langkah lagi dengan menjadi tempat magang mahasiswa-mahasiswi Bonn University. Kampus di bekas Ibukota Jerman Barat itu memagangkan 6 mahasiswa-mahasiswinya selama 3-6 bulan di koran harian yang bersemboyankan: idealisme, keberagaman dan kebersamaan ini.
Kedatangan 6 mahasiswa-mahasiswi itu memang tidak serentak. Sejak 2 Oktober kemarin, telah tiba mahasiswi Jurusan Studi Asia, Dorina Luise Schulte (25) dengan menggunakan penerbangan dari Frankfurt dan transit di Abu Dhabi, lalu ke Jakarta dan Pontianak.
Dorina akan menjadi redaktur tamu di program berbahasa Inggris yang dipublikasikan di halaman pendidikan serta terbit setiap hari Sabtu. Dorina juga akan belajar Bahasa Indonesia serta kebudayaan selama berada di Kalbar.
Berkenaan dengan kedatangan wanita bule ini di hari libur bersama Idul Fitri, dia mengikuti segala aktivitas Idul Fitri seperti bersilaturahmi dengan keluarga, mengikuti open house sejumlah pejabat dan menikmati aneka makanan khas selama Idul Fitri. Perjalanannya di Kalbar—kendati baru beberapa hari—telah menginjakkan kaki di Kota Singkawang serta panorama Pasir Panjang.
Kesan Dorina pertama-tama di Kalbar sangat terkesan dengan keramah-tamahan penduduknya. Terlebih setiap orang menyapanya dengan ketertarikan berbahasa Inggris, sedikit-sedikit berbahasa Jerman, dan semakin karib karena Dorina berusaha pula menjawab alam Bahasa Indonesia.
Dorina yang jago memasak di negerinya ini merasa cocok dengan makanan khas Indonesia seperti sate, lontong, lemang, lepat law, aneka masakan ikan laut, udang galah, hingga tempoyak. Dia juga menikmati tahu Singkawang yang sangat terkenal itu.
Pada saat berkunjung ke pabrik tahu yang takjauh dari lokasi Hotel Mahkota Singkawang tersebut, Dorina sempat membantu proses mencetak tahu setelah di masak. “Di Jerman tahu dijualdi supermarket, tapibaru kali ini saya tahu proses pembuatannya,” ujarnya kagum.
Pada hari Senin (6/10) Dorina mulai menjalani magangnya di Harian Borneo Tribune. Dia mulai berkenalan dengan satu per satu dengan para reporter, layouter, bagian administrasi dan juga penasihat hukum Borneo Tribune serta owner Borneo Tribune.
Belajar berbahasa Indonesia sekaligus mentrasnfer kemampuan berbahasa Inggrisnya kepada para reporter di Borneo Tribune pun segera terjadi. Beberapa reporter dan redaktur tangkas mengajaknya berdiskusi.
Magang yang dalam istilah Borneo Tribune disebut internship program terbuka bagi pelajar dan mahasiswa di Kalbar, tetapi juga terbuka bagi mahasiswa dan mahasiswi asing. Magang di Borneo Tribune sudah tidakasing bagi kalangan pelajar dan mahasiswa di Kalbar, tapi baru kali ini buat mahasiswa asing.
Program pertukaran seperti ini menjadi penting karena degan kemajuan sain dan teknologi dunia semakin kecil. Kampung bumi dengan komunitas masyarakat internasional harus dipersiapkan sejak dini dan harus dimulai dengan hal yang kecil-kecil. Terlebih Kota Pontianak sebagai ibukota Kalbar yang bercita-cita mewujudkan Kota Internasional. Oleh karena itu bahasa Inggris sebagai bahasa internasional mutlak harus dikuasai.
Apa yang dilakukan Borneo Tribune segera mendapat simpati dari berbagai kalangan. Ketua DPRD Kota Pontianak, H Gusti Hersan Aslirosa menawarkan kerjasama yang lebih baik untuk bidang pendidikan berbahasa dan budaya. Begitupula Ketua ESQ Peduli Pendidikan, Ny Henny Handayani Zulfadhli. Ibu guru Bahasa Inggris di SMPN 6 Kota Pontianak ini akan menjadikan Dorina sebagai tamu pelajaran Bahasa Inggris di sekolahnya. “Kehadiran native speaker sangat ditunggu-tunggu dan berdampak positif bagipelajaran bahasa Inggris,” ungkapnya saat open house di kediamannya.
Rektor Untan, Dr H Chairil Effendi membuka diri jauh lebih dalam lagi. Dia membuka kerjasama dengan Borneo Tribune dan Tribune Institute serta Bonn University untuk Dharma Mahasiswa yang terikat dengan program Dirjen Dikti. “Kita bangun kerjasama dari bawah untuk kemudian mencapai student exchange programme,” ungkapnya saat menerima kedatangan Dorina sebagai salah satu delegasi Bonn University.
Usulan Chairil ditindaklanjuti Dekan FKIP Untan yang mempunyai program studi Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Kedua program studi ini akan sangat terbantu dengan program kerjasama seperti ini. “Ini ibarat kue datang sendiri, tinggal kita kreasikan dan nikmati. Tak perlu buat sendiri lagi, sudah datang sendiri,” kata Dekan FKIP Untan, Dr Aswandi. “Ini peluang bagus yang harus dimanfaatkan secara maksimal,” katanya.
Dorina sendiri tersenyam-senyum menikmati suguhan air lidah buaya. “Wow uenak sekalii,” ungkapnya dengan Bahasa Indonesia yang terbata-bata. “I like it,” sambungnya familiar.

0 comments:
Post a Comment