Sepasang Pak A. Umar Said dan Ibu Umar di Paris
Kota Bonn yang agak sedikit mendingin saya tinggal dulu di awal September kemarin ini. Selama lima hari kembali Paris saya temui. Selama lima hari itu pula dengan senang hati saya dan seorang teman menjadi 'tamu khusus', diundang tinggal di rumah Pak A. Umar Said dan Ibu Umar yang baik hati. Tempatnya sedikit di luar keramaian pusat kota Paris. Namun dengan kendaraan umum dari tempat mereka menuju pusat kota atau sebaliknya hanya perlu 20 menit-an.
Tidak tahu bagaimana menggambarkan kegembiraan saya yang telah bisa mencicipi sedikit tentang kehidupan sehari-hari Pak Umar dan Ibu Umar, yang sebelumnya hanya saya kenal melalui cerita sejarah Indonesia dan dari tulisan-tulisan di internet. Pak Umar dan Ibu Umar (demikian selalu saya panggil). Sepasang orang tua yang menghabiskan masa kehidupan mereka di negeri bukan tempat kelahiran mereka sejak tahun 1965. Dulu mereka sempat terpisahkan selama 13 tahun, tanpa ada komunikasi surat, telpon, maupun sekedar kata-kata. Namun setelah 13 tahun perpisahan yang pahit dan penuh perjuangan itu, mereka pun berhasil disatukan kembali, sampai sekarang. Kini saya lihat, tampak sekali mereka berbahagia dan aktif menulis serta bekerja. Rumah mereka sangat rapih dan bersih. Betah berada di sana, karena terutama suasananya yang tenang. Anak bungsu mereka yang sudah beranak satu memang tinggal juga berdekatan. Hanya berjarak beberapa meter dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Anak sulung yang sudah beranak dua berdomisili di Dubai dan tentu saja sudah beberapa kali dikunjungi Pak Umar/Ibu Umar ini. Sejak tahun 1995 Pak Umar pun sudah berulang kali mengunjungi kembali Indonesia.
Walau usia Pak Umar sudah hampir menginjak 80 tahun, ketekunan membaca dan menulis sang wartawan senior ini tak bisa saya pungkiri. Buku-buku terbitan baru yang terutama bertemakan Indonesia (dan politiknya) saya temukan di rumahnya. Buku-buku tersebut banyak yang belum saya punya, apalagi yang terbitan tahun 2008. Sehingga saya sangat 'gregetan' untuk bisa membacanya semua selama tinggal di rumah Pak Umar kemarin itu. Namun tidak cukup waktu karena saya sendiri sering keluar menjelajah kota Paris yang sepertinya tak habis-habisnya itu. Ada buku tentang 80 tahun Pak Yoesoef Ishak, ada buku dari Max Lane (penerjemah karya-karya Pram Ananta Toer), lalu buku tentang Pak Umar sendiri, dan buku-buku lainnya yang tidak saya ingat lagi judul-judulnya.
Sepasang Bapak dan Ibu Umar A. Said ini sungguh unik. Pak Umar yang sangat getol menulis, terutama untuk websitenya yang banyak dikunjungi/diklik pembaca dari mana-mana itu. Dan Ibu Umar yang dengan rajinnya menjadi sang editor. Bu Umar bilang: barangkali ada kesalahan ketik atau ejaan, jadi harus dicek. Kerja suka rela, gotong royong! Tak jarang Bu Umar pun menyarankan pendapat kalau ada ungkapan Pak Umar yang dianggap kurang tajam! Tentu saja Bu Umar pun sangat berkiprah dalam hal memonitor, apakah Pak Umar sudah minum obat atau belum.
Bisa saya simpulkan, kalau Pak Umar ini sebenarnya membaca dan menulis siang malam. Saya perhatikan tidurnya hanya sesekali saja, dua atau tiga jam, lalu bangun lagi. Ketika di tempat mereka, kalau saya misalnya kebetulan terbangun dini hari karena harus ke kamar mandi atau harus ke dapur mengambil minum, sudah tampak punggung Pak Umar yang sedang menghadap komputer. Mata dan pikirannya menatap layar dengan penuh konsentrasi. Jadinya jam tidur untuk Pak Umar bagaikan jam 'nap' saja. Hari-hari dan malam-malamnya kebanyakan untuk memutar otak, berargumentasi dengan sang layar komputer. Barangkali selama 'nap'-nya juga di otak Pak Umar ini terus bergulir ide-ide, kalimat-kalimat, dan argumentasi-argumentasi. Makanya kalau saya mengobrol dengan Pak Umar, selalu nyambung dan jauh dari istilah lupa atau 'pikun'. Walaupun layar televisi selalu menyala dan bersuara, rasanya pendengaran Pak Umar pun tidak terganggu, masih saja bisa mendengar kata-kata saya dengan baik.
Tapi, tentu saja, bukan berarti pasangan Pak Umar/Ibu Umar ini tak pernah keluar rumah. Malah sebaliknya. Keduanya masih suka berjalan kaki setiap hari. Bahkan sering mereka makan di luar, di beberapa restoran yang mereka sukai. Terutama makan siang. Bosen katanya kalau makan di rumah terus, kurang suasana. Lagi pula memang tak jauh dari tempat mereka tinggal ada beberapa restoran Asia yang sangat nikmat. Artinya, dalam rangka 'hunting' makanan lezat bersari rasa Asia pun, pasangan Pak Umar/Ibu Umar ini lebih baik keluar jalan kaki, kadang disambung dengan menaiki kereta untuk jarak beberapa stasiun, lalu ada jalan kakinya lagi.
Apa lagi Bu Umar. Dia ini malah paling sering jalan, walaupun sendirian. Dia juga masih bekerja membantu di Restoran Indonesia setiap weekend (Sabtu dan Minggu, pagi sampai siang). Ketika saya dan teman sampai di stasiun pusat Gare du Nord pun, Bu Umar pula yang menjemput. Begitu kami keluar kereta api, Bu Umar sudah siap berdiri di depan kereta! Dengan rajin dan teliti Bu Umar kemudian mengajarkan kepada saya dan teman saya bagaimana caranya membeli tiket untuk menuju ke rumahnya, kalau kami nanti pergi sendiri, bagaimana naik RER/trem atau metro, yang mana dan dari mana serta turun di mana. Setelah hampir seminggu tinggal bersama Bu Umar dan Pak Umar, rasanya saya dan teman saya pun menjadi lebih pintar sekarang keliling-keliling memakai kendaraan umum di Paris yang gede itu sendirian. Kalau ke Paris lagi, saya tambah PD (percaya diri), bisa jalan sendiri deh!
Secara pribadi sudah lama saya tertarik untuk mengenal Pak A. Umar Said lebih dekat lagi, karena beliau ini bagi saya adalah salah satu dari sekian gelintir saja insan sejarah Indonesia yang masih hidup. Yang bisa membuka mata generasi muda lebih lebar dan mungkin bisa turut menerangkan atau sedikit banyak membersihkan otak kami-kami yang telah 'terbersihkan' (brain-washed) selama 30 tahun Orde Baru. Karena beliau adalah saksi mata langsung dari kegelapan sejarah 65 yang mengetahui banyak kisah-kisah seputar sejarah 65. Sumber langsung yang patut kita dengarkan dan hargai tulisan maupun argumentasinya. Sejak masa reformasi dimulai 10 tahun yang lalu, sudah seyogyanya kita saling membuka mata, dada, dan pandangan dengan lebih terbuka, tanpa belenggu, dan berlebihan. Tak boleh ada pendapat dan opini yang dimarjinalkan, yang dipinggirkan.
Dalam kesempatan ini saya teringat salah satu ungkapan Pak Joesoef Ishak (penerbit karya-karya Pram Ananta Toer) dalam salah satu tulisannya, yang kira-kira bunyinya begini (tidak percis, tapi artinya kira-kira begini): "Kita harus menghentikan budaya berpendapat hanya dari satu pihak saja atau budaya berpendapat homogen. Sudah terlalu lama Indonesia hidup dalam alam budaya yang demikian. Marilah kita suburkan pendapat-pendapat lain yang berbeda pula. Biarlah pendapat lama dan pendapat baru muncul berdampingan. Tak perlu kita bisukan pendapat lama, tak perlu pula kita bisukan pendapat baru. Keduanya harus dibiarkan muncul bersamaan. Para pembaca sekarang tidaklah bodoh. Serahkan keputusan terakhirnya kepada para pembaca sendiri."

0 comments:
Post a Comment