Wednesday, September 17, 2008

Pengalaman Sore Ini: Mengatasi Kemiskinan dengan Menyemir Sepatu

Sore hari di pusat kota Bonn. Udara dingin sekali sejak beberapa hari ini. Padahal baru bulan September. Hari ini saya harus mengantar anak saya yang bungsu ke sekolah musik dia. Sementara anak yang sulung absen, karena sedang tidak enak badan.

Karena udara dingin, ketika keluar rumah, saya berpakaian hangat. Selain memakai mantel, tidak lupa pula dilengkapi dengan sepatu boot kulit setinggi lutut, melapisi stocking panjang agak tebal dari katun (Baumwolle 100%), supaya hangat walaupun hanya dengan memakai rok selutut.

Karena sekolah musik anak-anak berada percis di dalam daerah pusat kota/pusat perbelanjaan (Zentrum), maka sambil lewat mata bisa melayang ke berbagai arah daerah atraksi menarik. Bukan saja cuci-mata dengan menengok etalase-etalase pertokoan, melainkan diantara hiruk pikuk para pejalan kaki di pusat kota nan penuh obat mata ini, para pemusik jalanan pun (baik perorangan maupun grup) tampil di berbagai sudut. Tidak jarang diantara mereka ada yang bermain sangat profesional dan sekalian menjual album yang mereka produksi. Mereka juga biasanya menyediakan sebuah tempat kecil untuk uang sumbangan (Spende) bagi siapa saja yang suka rela memasukkan uang receh Euro ke sana. Kalau saya biasanya memberikan uang receh kepada anak-anak saya, supaya mereka yang memasukkannya ke tempat sumbangan. Kalau pertunjukkan musiknya hebat, saya dan anak-anak biasanya berhenti dulu cukup lama, memandang sambil menikmati musik yang dimainkan. Tidak lupa memberi tepuk tangan di setiap akhir lagu.

Namun sore ini ada sesuatu yang lain atau mungkin biasanya terlewat dari perhatian saya. Tiba-tiba saya melihat ada seorang Bapak berumur 60 tahunan yang memberikan jasa menyemir sepatu. Berbagai semir disediakannya di atas hamparan tikar plastik yang sederhana. Saya lihat si Bapak sedang menyemir sepatu seorang laki-laki. Di antara barang-barang keperluan semirnya, tertera pula satu tulisan kecil dalam bahasa Jerman, berbunyi: „Saya miskin, tetapi saya tidak mau meminta-minta. Lebih baik saya menyemir sepatu Anda. Kalau suka, silakan Anda coba. Boleh memberi donasi, boleh juga tidak. Terserah Anda.“

Sejenak saya meminta anak saya untuk duduk di sebuah kursi yang dekat si Bapak tukang semir. Lalu saya menunggu dan memperhatikan si Bapak tukang semir itu menyemir kedua sepatu si laki-laki. Terketuk hati saya, ingin sekali memberi donasi ke si Bapak tukang semir ini. Nah, kebetulan sepatu boot saya cukup panjang dan saya agak malas menyemirnya. Saya pikir, ini suatu kebetulan dan menjadi alasan saya untuk memberikan sedikit sumbangan.

Waktu saya mengucapkan kata ‘Hallo, Gutan Tag’ (Halo, Selamat Sore), si Bapak agak terkejut. Barangkali biasanya yang mendekati dia dan menyodorkan kedua kaki hanyalah kaum laki-laki. Si Bapak tersenyum simpul dan menjawab salam saya. Lalu tanpa banyak basa-basi, saya pun langsung menyodorkan kaki kanan saya. Dengan agak ragu-ragu, si Bapak mulai memegang sedikit sepatu boot saya untuk menentukan jenis apa materi kulit sepatu. Setelah itu dia berkata: ‚Saya tahu, semir apa yang terbaik untuk sepatu Anda. Ini kulit asli dan harus diberi semir yang mengandung lemak’. Dia berkata demikian sambil mencolek satu jenis semir dan menciumnya dengan hidungnya. „Silakan Anda juga mencoleknya dan cium dengan hidung Anda,“. Segera saya pun melakukan permintaannya. Ternyata bau semir itu cukup enak, tidak terlalu intensif, cukup netral dan berkesan ada lemaknya yang memang bagus untuk melindungi jenis kulit sepatu boot saya.

Nah, karena sepatu boot saya sedikit berhak tinggi (kurang lebih 5 cm), ada saat saya sedikit oleng ketika sepatu digosok oleh si Bapak (sepatu tidak saya buka, melainkan langsung disemir sambil saya pakai). Waktu oleng, dengan spontan saya berucap: „Ups, sorry“. Tetapi kemudian saya ubah ke bahasa Jerman: „Entschuldigung“ (maaf).

Ketahuan saya mengeluarkan satu kata berbahasa Inggris, si Bapak tukang semir itu langsung mengajak ngobrol kepada saya dalam bahasa Inggris. Fasih sekali dan sangat ramah. Diantaranya dia juga menegaskan kembali, bahwa dirinya paling anti meminta-minta. Semiskin apa pun, dia tidak akan meminta-minta. Oleh karena itu, dia lebih baik memberikan jasa menyemir sepatu orang, walaupun tanpa menetapkan harga.

Dengan agak terkejut, karena tidak menduga si Bapak tukang semir ini bisa berkomunikasi dengan begitu baik dalam bahasa Inggris, saya pun merespon obrolannya. Mengobrol apa saja, sambil menikmati kaki yang seperti sedang mendapat service-pijit, karena sepatu boot saya yang setinggi hampir lutut itu dengan merata oleh si Bapak dibersihkan yang kadang seperti diurut-urut ketika melakukannya. 

Si Bapak bercerita bahwa dia pernah hidup di Kenya (Afrika) beberapa tahun. Di Kenya bahasa Inggris memang bahasa sehari-hari, di samping bahasa-bahasa lokal setempat. Ketika saya bercerita bahwa saya berasal dari Indonesia, si Bapak semir ini pun langsung merespon: „Saya menyukai budaya Asia, karena di sana orang-orang tua selalu dihormati oleh kaum-kaum mudanya. Tidak seperti di sini, orang tua seperti tidak ada gunanya, dan anak-anak muda tidak lagi memberi hormat kepada orang tua mereka, tidak seperti orang-orang di dataran Asia.“

Mendengar ucapan dari si Bapak penyemir ini, saya pun balik bertanya, apakah dia pernah juga ke Asia. Tapi si Bapak ini menjawab: „Tidak, tetapi saya tahu tentang hal itu.“

Saya menyimpulkan bahwa si Bapak tukang semir ini seorang yang selalu tertarik mempelajari kebudayaan bangsa-bangsa lain. Yang dipelajari serta diingat olehnya adalah aspek-aspek budaya yang positifnya. Mungkin dia juga banyak membaca buku.

Beberapa pejalan kaki yang lewat rupanya menoleh juga ke arah kami, menyaksikan atraksi penyemiran si Bapak semir ke kedua sepatu boot yang menempel di kedua kaki saya ini. Bahkan ada dua orang laki-laki setengah baya yang berhenti, memandang cukup lama, dan kemudian berkata: „Wah, kalau ini sih pertunjukkan yang sangat menarik!“. Saya dan Bapak semir tidak menggubris mereka, kami teruskan saja bisnis kami. Tetapi sedikit senyuman kecil saya lemparkan juga kepada kedua laki-laki itu. Yang satu orang Turki, dan yang satunya lagi orang Jerman. Sempat pula si Bapak semir mengucapkan kata Assalamu Alaikum kepada si laki-laki yang dari Turki.

Tak berapa lama, setelah selesai, saya pun mengambil beberapa uang recehan Euro dari dompet saya dan memasukkannya ke keranjang kecil mungil dari bambu yang disedikakan si Bapak sebagai tempat donasi. Si Bapak mengucapkan terima kasih berkali-kali. Auf Wiedersehen! (Sampai berjumpa lagi!).

Sayang sekali, saya lupa membawa kamera untuk mengabadikan pengalaman saya tadi. Biasanya kemana pun pergi, (hampir) selalu ada kamera kecil di dalam tas saya. Tetapi saya pun kemudian bilang ke si Bapak, bahwa mungkin besok hari saya akan memakai sepatu boot lainnya dan akan mampir lagi.

Saya pikir, kalau jadi, akan saya bawa kamera saya pula...**

0 comments:

{ Template Design by Elque 2007 }