Namaku LEKRIYANTI
Lima belas hari sejak aku resmi menjadi insan bumi
Nusantara digoncang sebuah awal keaiban sejarah
Saat darah merah hitam mulai mengalir di sungai-sungai
Bermuara dari tubuh-tubuh rakyat kerempeng tak berdosa
Enam Jenderal berbintang tewas terbunuh
Maka jutaan nyawa pun syah untuk dimusnahkan
Sebuah genosida yang mampu dibutakan para penguasa
Selama tiga dasawarsa tanpa ada yang bisa mengangkat kata
Republik sejati yang baru menginjak dua windu
Hasil keringat patrotik jutaan rakyat dengan runcingnya bambu
Mulai gelap gulita terkubur tanpa berdaya
Saat Jendral bermurah senyum mulai merayap
Tuk menancap kuku di atas kursi empuk sana
Beberapa tahun kemudian yang tak mampu terhitungkan
Kosa kata penderitaan dan kemiskinan menjadi bagian kehidupan
Dalam keluarga kami dan jutaan sukma di bumi nan kaya raya
Kami dilupakan kerabat dan negara tercinta
Hak-hak kami dipasung dan diinjak-injak dengan bergema
Karena kami dianggap babi-babi penanggung dosa
Bahkan sebuah nama
Bisa mengantar kami ke jurang derita nan abadi
Ya, namaku LEKRIYANTI
(Yanti, ditulis di Paris, 5-SEPT-2008)
Notes:
Sengaja puisi ini kuterbitkan hari ini, di hari ulang tahunku.
15 September 1965 adalah hari kelahiranku. Bulan dan tahun yang selalu membawa pikiran dan jiwaku ke memori pahit yang dialami keluargaku selama bertahun-tahun kemudian. Pahit, tetapi penuh hikmah.

0 comments:
Post a Comment