Wednesday, August 27, 2008

Kutipan dari wawancara dengan penyair Agus R. Sardjono

Malam ini saya duduk menyepi di ruang kerja saya di universitas. Satu buku berisi kumpulan sajak dari penyair Indonesia, Agus R. Sarjono, baru selesai saya baca. Judul buku 'Suatu Cerita Dari Negeri Angin'(2001), telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul yang sama 'A Story from the Country of the Wind' (2001).

Di halaman belakang buku kumpulan puisi ini ada sebuah wawancara Linde Voute (Belanda) dengan Agus R. Sarjono ketika ia sedang berada di Belanda sebagai penulis yang diundang oleh International Institute for Asian Studies (IIAS), Leiden/Belanda. Saya terkesima dengan pernyataan jujur Agus R. Sarjono yang begitu sederhana diungkapkan, namun tampak jelas merupakan hasil observasinya yang sangat jeli, tentang salah satu dari sekian banyak perbandingan antara Indonesia dengan Belanda.

Berikut kutipan ungkapan Agus R. Sarjono ketika menjawab pertanyaan: 'Apa kesan Anda selama tinggal di Belanda?':

"Sebagian yang saya impikan untuk Indonesia saya saksikan ada di Belanda. Pejalan kaki tidak dihinakan, demikian pula pengendara sepeda. Kalau kita mau menyeberang, tinggal tekan tombol, dan tak lama kemudian mobil-mobil berhenti. Di Jakarta, banyak jembatan penyebrangan. Bagi saya, inilah monumen besar ketidakadilan sosial di Indonesia. Orang-orang yang tidak bermobil, tidak peduli dia orang tua, orang cacat, ibu-ibu hamil yang membawa tiga anak kecil, atau orang membawa barang-barang berat, harus naik tangga yang tinggi sekali untuk menyeberang jalan, tidak lain dan tidak bukan agar para pemilik mobil bisa ngebut dengan lancar di jalan raya tanpa terganggu oleh orang-orang miskin. Padahal, logikanya, justru yang bermobillah yang bisa menunggu para pejalan kaki menyeberang, karena mereka tidak kehujanan atau kepanasan. Pada weekend (akhir pekan -red) dan hari libur, jalanan umum Jakarta-Bandung via Puncak yang cepat, tertutup untuk kendaraan umum dan hanya boleh untuk kendaraan pribadi, sehingga pemakai bus umum harus berputar jauh. Semua so call (dengan menyebut -red) 'demi kepentingan umum'. Ini semua sama sekali bukan masalah ekonomi atau biaya, tetapi semata-mata sikap dan cara memandang manusia. Di Belanda, yang terjadi terbalik. Di bus, tempat terbaik disediakan untuk rakyat kecil. Orang kaya dianggap bisa cari jalan sendiri dan tidak banyak diberi fasilitas. Di Indonesia, jika Anda tidak kaya dan berkuasa, tak ada fasilitas buat Anda."

Ungakapan singkat dan jeli Agus R. Sarjono ini saya amini, karena saya sudah mengalaminya sendiri, bagaimana budaya lalu lintas di Belanda (dan umumnya negara-negara Eropa) dengan budaya lalu lintas di Indonesia.

Bukan saja di Jakarta atau kota-kota besar, melainkan di hampir setiap daerah di Indonesia yang sudah memiliki fasilitas jalan raya umum, budaya lalu lintas masih merupakan budaya 'hukum rimba' alias siapa yang kuat, dia yang menang. Kata 'kuat' di sini berarti 'bermesin' alias 'yang tidak menggunakan kedua kaki secara utuh (berjalan kaki, bersepeda, berbecak)'. Sedangkan arti kata 'menang' berarti 'boleh seenaknya, boleh mendahului, boleh menyeruduk, bahkan boleh menyenggol atau menubruk, bagai the King of the Road'.

Perhatikan pula kalimat terakhir dari Agus R. Sarjono 'Di Indonesia, jika Anda tidak kaya dan berkuasa, tak ada fasilitas buat Anda'. Tentunya arti dari konteks kalimat ini bukan saja terbatas untuk tema lalu lintas, melainkan juga lebih luas di berbagai segi kehidupan di tanah air.



0 comments:

{ Template Design by Elque 2007 }