Tanggapan: Aku Yang Serakah
Moral sajakmu sangat menyentuh, Yanti. Kejujuran adalah obat terbaik untuk hypocrisi. Tidak sedikit orang-orang yang bersimpati dan timbang rasa pada kaum miskin. Tapi juga sangat sering mereka merasa tidak berdaya, tidak tahu apa yang mesti diperbuat untuk mengurangi kemiskinan, pada hal diri kita masih sangat jauh dari kemiskinan karena posisi ekonomi kita lebih baik atau kebetulan sedang baik atau memang sejak mula sudah baik. Tapi kita tetap merasa tak sedap berada di tengah kemiskinan orang lain, kemiskinan rakyat.
Yanti tentu masih ingat Romo Mangunwujaya yang seorang insinyur, seorang ilmuwan, seorang rohaniawan, pegiat sosial dan seorang Romo pula yang langsung berkecimpung dalam kegiatan sosial di tengah kemiskinan rakyat. Namun beliau juga mengeluh yang bahkan sesungguhnya lebih berat dari putus asa. Beliau sampai mengatakan dalam novelnya bahwa kata beliau, Tuhan selalu berpihak pada orang kaya dan Tuhan sangat membenci orang miskin. Bayangkan pernyataan seorang Romo yang demikian terhadap Tuhannya sendiri..
Tapi yang kita ambil adalah intinya saja, sarinya dari penyataan beliau yang kontroversial yang mengejutkan itu. Ketidak berdayaan mengatasi kemiskinan rakyat meskipun telah berusaha semaksimal mungkin. Seorang seniman wanita Indonesia yang cukup terkenal pernah bilang di depan saya:" Ah, saya sudah capek mikiran nasib buruk rakyat Indonesia". Itu bukan pernyataan munafik tapi memang benar-benar kelelahan yang sesunguhnya karena seniman wanita itu memang sangat aktif dalam kegiatan sosialnya.
Membela orang miskin bisa sama seperti menimba air di perahu yang bocor yang berangsur tenggelam. Karena kemiskina rakyat hanya bisa diselesaikan hanya dengan perubahan sistim sosial secara mutlak, mendasar dan dengan cara ektrim. Dan bila menempuh jalan itu, bukan hanya bisa capek dan putus asa tapi juga bisa korban nyawa yang tidak sedikit.Tapi hanya itulah jalannya. Dan siapakah yang akan memulai?. Itu sebuah pertanyaan yang lebih membikin capek lagi dan membuat kita lebih putus asa lagi.
Tapi untuk sementara, dengan bermodal kejujran terhadap diri sendiri, meskipun putus asa atau setengah putus asa, itu lebih baik daripada kita menjadi hypokrit seratus persen karena itu adalah pintu masuk ke gerbang Oportunisme. Nah menunggu sajak-sajakmu yang lebih berani lagi.
Salam,
asahan.

0 comments:
Post a Comment