Friday, January 9, 2009

Obrolan Pagi dengan Seorang Supir Taxi

Pagi ini anak saya harus telat sampai di sekolahnya, gara-gara bis yang lama ditunggunya tidak mucul juga. Hanya bis nomor 630 lah yang melewati sekolah anak saya, dari tempat pemberhentian terdekat di rumah. Jadi, kalau bis 630 tersebut telat datang atau sama sekali tidak muncul, maka risikonya adalah telat sampai di sekolah.

Anak saya terpaksa harus kembali ke rumah, memberitahu saya bahwa bis tidak datang. Padahal jam sudah menunjukkan jam 7:50. Seharusnya anak saya sudah berada di kelas jam 7:45. Karena kalau memakai sepeda ke sekolah udara pagi ini terlalu dingin dan pasti terlalu telat sampai di sekolah, maka saya putuskan untuk memanggil taxi saja. Jarak rumah ke sekolah memang tidak jauh, tetapi bulak-balik memakai taxi artinya membayar di atas 10 Euro.

Saya harus ikut mengantarkan anak saya dengan taxi tersebut, sehingga saya pun kembali dengan taxi yang sama, supaya cepat berada di rumah kembali. Sambil menuju sekolah, saya meulis surat untuk guru anak saya, menerangkan mengapa anak saya harus telat datang ke sekolah pagi ini. Menulis surat di dalam mobil tidaklah mudah, apalagi sang supir taxi harus mengambil jalan-jalan tikus, supaya anak saya cepat sampai, karena jalan besar macet! Baik sekali Pak Supir ini, berusaha supaya bisa sampai di sekolah secepat mungkin. Kebtulan jalanan agak licin, karena banyak bekas salju yang membeku, sehingga setiap kendaraan harus hati-hati dan pelan jalannya.

Sepanjang jalan, supir taxi bercerita bahwa pagi tadi itu ada sebuah kecelakaan dekat rel kereta api, sehingga jalanan macet dan sejenak terhenti total. Padahal ini jam-jamnya orang-orang berangkat ke tempat kerja, ke sekolah, ke kampus, dan sebagainya. Saat-saat Rush-Hour!

Supir taxi pun bertanya, kelas berapa anak saya sekarang. Disebutkan kelas 6, dengan nama sekolahnya Friedrich-Ebert-Gymnasium (Bonn). Supir taxi kemudian bercerita bahwa dia bangga sekali anaknya sekarang di kelas 8. Sebelumnya, ketika baru masuk ke Gymnasium (kelas 5), ada guru yang langsung merendahkan kemampuan si anak dan disarankan untuk pindah ke sekolah lain yang lebih berorientasi ke kerja, seperti Haupstschule, dan bukan ke Gymnasium.

Si Bapak alias supir taxi menjawab kepada sang guru Jerman yang tidak terlalu antusias dengan anaknya itu: "Tidak, anak ini ingin masuk Gymnasium dan kami akan mengusahakan mendapat bantuan guru di sore hari (Nachhilfe)". Tapi sang guru malah menjawab: "Ongkosnya terlalu mahal, lebih baik hal itu tidak Anda lakukan!"

Mendapat tanggapan yang begitu merendahkan dan tidak memotivasi itu rupanya tidak menjatuhkan spirit belajar si anak. Dengan dukungan kedua orang tuanya si anak terus bekerja keras, dan buktinya sekarang di kelas 8 dia menjadi salah satu murid terbaik di kelas. Angka-angkanya baik dan bahasa Jermannya pun baik sekali. Tentu saja sebagai orang tua, si Bapak supir taxi merasa bangga sekali dengan perkembangan anaknya ini. Si anak telah membuktikan bahwa hanya karena bahasa Jerman bukan sebagai bahasa Ibu, bukan berarti kesempatan untuk berkembang di sekolah yang diinginkan langsung tertutup!

Ketika saya akan turun dari taxi, saya bertanya kepada sang supir: 'Bapak berasal dari mana aslinya?'. Dia menjawab: "Dari Iran. Dan Anda?". Saya jawab: "Dari Indonesia! Bapak Muslim?". Supir: "Oh dari Indonesia. Ya, saya Muslim. Anda juga?". Saya: "Betul!" Supir: "Alhamdulillah!"

Percakapan terputus, karena saya harus turun. Saya sodorkan 15 Euro. Sebenarnya saya masih bisa mendapatkan kembali 1 Euro lebih sedikit. Tapi saya bilang kepada Pak Supir (seperti juga sering saya lakukan ke supir-supir taxi lainnya): "Ambil saja Pak kembaliannya. Terima kasih. Asssalamu Alaikum".

Pak Supir Taxi menjawab: "Terima kasih. Waalaikum Salaam".


0 comments:

{ Template Design by Elque 2007 }