Sunday, December 14, 2008

Mathias Waldmeyer: Sebuah Proses Belajar, Lima Minggu Mengalami Budaya Lain

Sebuah artikel menarik lainnya yang ditulis oleh mahasiswa Universitas Bonn, Mathias Waldmeyer, yang sekarang sedang magang di koran Borneo Tribune, Pontianak.

Mengalami sendiri secara langsung tentang perbedaan budaya merupakan sebuah pengalaman berarti, yang tentu saja tidak mungkin dipelajari di bangku kuliah. Harus mengalaminya sendiri di negara yang bersangkutan, kemudian membandingkannya dengan budaya dari mana orang tersebut berasal.

O.k.Mathias, yang Anda alami bisa juga disebut sebagai 'studi banding' budaya.

(Saya jadi teringat, kalau istilah 'studi banding' ini merupakan sebuah istilah yang paling digemari para anggota DPR Indonesia....)



Borneo Tribune
Sunday, December 14, 2008

Sebuah Proses Belajar, Lima Minggu Mengalami Budaya Lain

Oleh: Mathias Waldmeyer

Sekarang, saya sudah lima minggu di Pontianak. Dalam waktu pendek ini, ada banyak hal yang menarik yang saya sudah ditunjukkan dan diajari oleh kawan-kawan kantor dan terutama kedua pemimpin program magang: Pemred, H Nur Iskandar, SP dan Ketua Yayasan Tribune Institute, Dwi Syafriyanti, SH, MH.

Pengalaman-pengalaman serta percakapan-percakapan di Pontianak sangat menyenangkan saya. Akan tetapi, rasa ingin tahu saya masih besar dan saya mau melihat serta mengetahui lebih banyak. Dan karena sering ditanyakan oleh orang-orang di sini, saya mau memberitahukan Anda: Ya, saya sangat menyukai makanan Indonesia. Artinya saya tidak rindu makanan Jerman. Bahkan…O ya, ada yang berkata pasti ada nasi di Jerman juga.

Selama di sini, saya tidak hanya mau meningkatkan pengetahuan saya tentang soal-soal rakyat Indonesia dan khususnya orang Kalbar, melainkan juga mengalami budaya yang berbeda dari budaya serta adat istiadat Jerman. Inilah salah satu alasan saya ingin ke luar negeri. Menurut saya, inilah yang menarik sekali. Harus diamati gerakan-gerakan dan ucapan-ucapan orang di luar negeri itu - tanpa menilai budaya lain -, dipelajari cerita-cerita dan sejarahnya, lalu dicoba membatin budaya yang baru itu dan menirukan gaya hidupnya.

Pasti juga ada bagian gaya hidup yang tidak mau diambilalih. Kalau saya, ini hal biasa. Tetapi harus dicoba dengan keras untuk tidak menghina orang-orang di luar negeri itu dengan perbuatan serta ucapan sendiri.

Saya mencoba setiap hari dan maafkan saya kalau tidak sukses setiap kali. Saya akan senang sekali, kalau ada orang yang membantu saya dengan menjelaskan kesalahan dalam bidang budaya dan bahasa. Jika berbahasa Indonesia dan saya tidak langsung mengerti, tolong katakan sekali lagi dengan lebih lambat memakai bahasa Indonesia lagi. Itu akan menggembirakan saya, karena bisa belajar lebih cepat.
Kalau ada orang yang tinggal selama beberapa bulan di luar negeri, pasti dia mengalami situasi serta cara sikap yang dianggapnya sebagai heran, aneh atau lucu dari sudutnya, karena berbeda dengan budayanya. Saya juga sudah mengalami situasi begitu ini di Pontianak seperti sekarang.

Sebelum ke Pontianak, saya bersekolah di Yogyakarta di sekolah swasta bahasa selama satu bulan. Setiap hari saya banyak naik sepeda motor, lalu suatu hari ada kecelakaan karena motor lain kena motor saya.

Sebab itu, ketika sudah sampai di Pontianak, saya ke pijat karena lengan serta siku saya masih sakit. Di sana banyak orang berkumpul untuk melihat saya dipijat. “Apakah saya aktor seperti di televisi boleh ditatap kalau tidak memakai kemeja?” saya pikir. Setiap kali saya menyeringai waktu ibu memijat dengan keras tempat yang sangat sakit sekali. Semuanya tertawa. Saya berpikir: “Mengapa? Apa itu? Kenapa mau lihat saya dipijat, lalu tertawa? Apa mereka suka saya merasa sakit?”

Mungkin di Indonesia situasi seperti ini biasa, tetapi saya merasa bahwa orang-orang itu tidak sopan. Biasanya di Jerman kalau ada orang yang tidak merasa baik, orang lain mengasihani dia dan pasti tidak tertawa.

Terus sambil memijat saya kadang-kadang ibunya mau berbicara dengan saya memakai bahasa Indonesia tidak standar (bahasa Melayu Pontianak, red) yang masih sedikit sulit untuk saya. Karena dia juga banyak bercakap dengan keluarganya di sekeliling dan saya berpusat pada rasa sakit, saya tidak menyadari kata-katanya. Tiba-tiba dia mengucapkan: “Masih harus belajar banyak untuk mengerti orang Indonesia.”

Saya heran, karena sering orang Indonesia bijaksana, sedikit malu dan tidak langsung dengan ucapan seperti itu. Lalu saya bertanya kepada diri saya sendiri: “Apa dengan konsep Asia Timur bahwa orang tidak boleh kehilangan mukanya?” Namun penonton itu tertawa saja.

Situasi seperti yang tersebut di atas biasa kalau tinggal selama beberapa bulan di negara dengan budaya yang berbeda. Sekarang saya belum mengerti sikap orang-orang itu dan masih menilai di bawah sadar dengan nilai-nilai adat Jerman. Mungkin nanti, kalau sudah lebih lama di Indonesia, saya juga merasa nyaman pada keadaan seperti itu kalau orang tertawa tentang saya. Nanti saya akan kembali ke ibu pijat itu, karena saya tidak lagi jengkel kepada dia sama sekali. Inilah proses belajar.




0 comments:

{ Template Design by Elque 2007 }