Tanggapan Saya Terhadap Tulisan Ibrahim Isa: Max Lane dan Aksi Massa Politik Indonesia
Yth. Kawan-Kawan,
Memang seperti juga yang telah Pak Ibrahim Isa sebutkan dalam tulisan terakhirnya, ceramah dari Max Lane kemarin di KITLV, Leiden, Belanda, sungguh menarik. Saya sendiri belajar banyak dari isi ceramah maupun dari sesi tanya jawab (diskusi) yang berlangsung setelahnya, terutama dalam hal perkembangan aksi massa politik di Indonesia saat ini.
Pragmentasi gerakan-gerakan massa di Indonesia pasca kejatuhan Soeharto menurut saya sangat disayangkan, karena kalau melihat sejarahnya dari jaman penjajahan Belanda sampai kejatuhan Soeharto, adanya aksi massa yang bersifat menyatu (bersifat nasional) di Indonesia jauh lebih akan menghasilkan tujuan daripada yang bertebaran di mana-mana tanpa ada galangan terpadu.
Tetapi tentu saja, saya mengungkapkan hal itu tanpa ada maksud menyepelekan atau memperkecil arti gerakan-gerakan aksi massa yang kecil-kecil dan bertebaran itu. Justru sebenarnya saya menyokong setiap gerakan progresif yang bertujuan membangun bangsa Indonesia, sekecil apa pun kontribusi mereka.
Satu hal yang saya kira sangat penting adalah, sesuai dengan tradisi masyarakat Indonesia selama ini, eksistensi seorang pemimpin nasional yang kharismatik dan memiliki leadership-skill yang hebat sangat berperan penting dalam masalah penyatuan aksi-aksi massa politik yang berfragmentasi ini.
Yang paling nyata, bisa kita ambil contoh pada masanya perjuangan kemerdekaan. Misalnya Soekarno (Bung Karno) yang karena gaya leadership-nya yang sangat kharismatik dan mampu merebut hati seluruh rakyat Indonesia, dia mampu menyatukan segala aspek aksi massa menjadi satu suara dan berhasil menuju satu tujuan bersama, yaitu : Kemerdekaan Indonesia.
Jamannya Soeharto, mirip, walaupun dalam arti yang sangat lain. Soeharto berhasil "menyatukan keseragaman suara rakyat Indonesia" melalui taktik pembodohan dan pemaksaan penyeragaman ideologi, taktik brainwash, dll. Dengan kekuasaanya yang kuat (dengan didukung kesatuan ABRI-nya) Soeharto berhasil menggiring bangsa Indonesia ke satu hal: rasa takut untuk melakukan sesuatu yang berbeda dengan keinginan yang berkuasa serta mampu merealisasikan adanya penyeragaman dalam berbagai aspek kehidupan di Indonesia.
Dengan demikian aksi massa jaman menuju kemerdekaan maupun jaman kekuasaan Orba memang sepertinya memiliki fokus yang jelas tentang tujuan yang hendak dicapai. Gerakan-gerakan jamannya Soeharto (Orde baru) pun semua bertujuan satu dan jelas, yaitu: Mengakhiri rejim ORBA.
Nah sekarang, di jaman reformasi, rakyat Indonesia (termasuk para generasi mahasiswa alias sang pelaku gerakan revolusi di Indonesia) sepertinya kehilangan arah yang terfokus. Tidak ada (belum ada?) pemimpin berwibawa yang mampu dijadikan pegangan atau dianggap sebagai seorang yang bisa dipercaya rakyat untuk bisa merealisasikan tujuan dari aksi-aksi politik mereka. Massa menjadi berdiri lepas, tersendiri, dan invisible untuk level nasional, yang mengakibatkan semakin memunculkan fragmentasi aksi yang disebut-sebut oleh Max Lane di bukunya itu (Unfinished Nation).
Suka atau tidak suka harus kita akui, bahwa memang masih demikian rakyat Indonesia kita. Mereka masih membutuhkan satu figur pemimpin yang dianggap bisa merangkul SEMUA rakyat Indoensia dari Sabang samapi Merauke. Selama pemimpin yang berfigur demikian tidak muncul, maka jangan diharap, fragmentasi aksi massa politik di Indonesia bisa dihimpun untuk mengarah ke satu "gerakan menentang sesuatu". Gerakan mahasiswa yang revolusioner dan suka "menggebrak tba-tiba" pun rasanya akan sulit lagi dialami di Indonesia, jika fragmentasi ini terus berlangsung tanpa kemunculan seorang pemimpin bangsa yang menjadi figur semua rakyat.
Yang perlu difokuskan oleh semua gerakan aksi massa di Indonesia sekarang adalah "tujuan" jelas mereka yang bisa menguntungkan untuk (berpihak kepada) semua lapisan masyarakat di Indonesia. Harus jelas, apa sebenarnya yang ingin "direvolusi/diubah dengan sesegera mungkin" sekarang ini di Indonesia? Apakah korupsi yang mewabah? Apakah memutuskan tali pengaruh-pengaruh ORBA yang masih menggurita dalam arena politik Indonesia? Apakah memulihkan kembali kepercayaan bangsa tentang pentingnya existensi pluralisme di bumi Indonesia, tanpa ada satu pihak apa pun yang mendominasi pihak lain? Apakah menyelamatkan hasil-hasil bumi Indonesia dari konsep neoliberalisme?
Tapi saya tidak pesimistis, reformasi kita "baru" berjalan 10 tahun. Gelombang revolusi (perubahan hebat) di Indonesia yang digerakkan para mahasiswa Indonesia (alias para pelaku muda yang merealisasikan aspirasi rakyat) selama ini memang memerlukan "tradisi persiapan" lebih dari 10 tahun. Untuk mengakhiri rejim Orde Baru pun diperlukan 30 tahunan.
Oleh karena itu, saya bisa memahami, jika setiap kali di Indonesia disebut-sebut seorang "figur pemimpin khayalan" yang dikenal dengan istilah "Sang Ratu Adil". Istilah ini saya kira adalah bentuk nyata dari impian dan dambaan rakyat luas Indonesia akan munculnya seorang figur pemimpin yang hebat yang mampu menjadi Bapak atau Ibu dari seluruh rakyat Indonesia dan mampu merealisasikan cita-cita anak-anak bangsa dari Sabang sampai Merauke.
Catatan: seorang figur pemimpin nasional yang hebat ini tidak terbatas pada seorang Bapak (laki-laki), tetapi juga bisa seorang Ibu (perempuan).
(Yanti, Bonn, Sept 2008)
-----------
Kolom IBRAHIM ISA
Kemis, 25 Sept 2008,
-----------------------
MAX LANE Dan AKSI-MASSA POLITIK INDONESIA
Rabu sore kemarin, 24 Sept 2008, kebetulan cuaca musim rontok sedang cukup baik, tak ada hujan dan sang surya memancarkan sinarnya dengan leluasa . . . .
Aku dengan santai berkunjung ke Leiden. Disitu ikut mendengarkan ceramah yang diselenggarakan oleh KITLV. Pembicara: MAX LANE, aktivis HAM, Indonesianis, wartawan dan penulis berbangsa Australia. Aku juga berrencana bertemu dan cakap-cakap dengan YANTI MIRDAYANTI, dosen Departemen Studi Asteng Universitas Bonn, dan Mark Stadler, mahasiswa jurusan Indonesia di Bonn.
Max Lane, datang bersama istrinya Faiza, penulis drama NYAI ONTOSORO, yang diadaptasi dari karya Pramoedya Ananta Tur, BUMI MANUSIA. Dalam ceramahnya Max membawakan tema AKSI, THE FALL OF SUHARTO AND INDONESIAN HISTORY.
Undangan, selain kuterima langsung dari Ny Siegers dari KITLV, juga berasal dari IISA, yang difowardkan kepadaku oleh Farida Ishaya, anggota pengurus St Wertheim yang kegiatan sehari-harinya di IISG (International Instituut voor Sociaal Geschiedenis, Amsterdam).
Melalui ceramahnya itu Max Lane menjelaskan serta memberikan argumentasi sekitr benang merah yang menjelujuri bukunya UNIFINISHED NATION: INDONESIA BEFORE AND AFTER SUHARTO
* * *
Dengan jelas dan gaya yang hidup, Max Lane menguraikan sekitar faktor utama jatuhnya Suharto, teristimewa bentuk khusus DIMENANGKANNYA KEMBALI – 'the re-winning of' - metode-metode perjuangan politik dalam tahun 1990-an -- yang mula-mula diintroduksikan dalam kehidupan politik pada tahap-tahap permulaan revolusi kemerdekaan, yaitu AKSI MASSA.
Ingat: Aksi-massa, atau massa-aktie, adalah salah satu ciri khas ajaran Bung Karno mengenai bentuk-bentuk perjuangan yang dianjurkannya sejak awal masa perjuangan bangsa kita melawan kolonialisme Belanda. Saat itu Bung Karno sebagai salah seorang pemimpin perjuangan kemerdekaan yang berpengaruh dan terkemuka, menentang bekerjasama (berkoperasi) dengan pemerintah kolonial, dan menganjurkan non-koperasi. Bung Karno memilih jalan mobilisasi massa rakyat secara langsung. Beliau tidak percaya pada niat baik pemerintah kolonial Belanda. Maka mengandjurkan agar langsung bersandar pada massa rakyat, pada kaum Marhaen.
Maka bisa dimengerti mengapa Joesoef Isak, pemimpin penerbit Hasta Mitra, aktivis pejuang prinsip kebebasan menyatakan pendapat, --- menyebut Max Lane itu sesungguhnya adalah seorang SUKARNOIS. Sedangkan Max sendiri secara terbuka menyatakan bahwa ia orang Kiri.
Max Lane: Aksi massa istimewa krusial, karena struktur otoriterisme Suharto dibangun justru disekitar penindasan terhadap cara perjuangan ini. Ditujukan untuk menghancurkan samasekali semua aksi-massa politik. Untuk mencegah adanya aksi-aksi politik massa, diberlakukan konsep 'massa mengambang'. Akibatnya a.l -- dalam waktu panjang di Indonesia tak ada perspektif bagi suatu ideolgi nasional. Max Lane mengutip Joesoef Isak yang menekankan berkali-kali bahwa sebagai akibat dari otoriterisme Orba, terjadilah situasi 'pembodohan' bangsa, khususnya di kalangan kaum terpelajar, yaitu ketiadaan keberanian berfikir sendiri, takut berfikir secara berdikari.
Oleh karena itu dimenangkannya kembali metode perjuangan aksi-massa, punya arti spesifik dalam dinamika sejarah Indonesia masa panjang. Bersamaan dengan itu, Max Lane menunjukkan betapa pentingnya memenangkan kembali aksi-massa sebagai metode aksi politik, dengan memenangkan kembali ideologi politik progresif yang terkait dengan revolusi nasional.
Munculnya kembali cara perjuangan yang terkait dengan ideologi disajikan sebagai bagian dari penjelasan mengenai stagnasi gerakan massa demokratis sejak 1998. Oleh karena itu, merupakan suatu problema yang mengharuskan solusi sebelum terjadinya suatu kemajuan besar dalam melancarkan ofensif terhadap struktur-struktur kekuasaan elite.
SOLUSINA: AKSI MASSA – KUNCINYA: PERSATUAN KAUM PROGRESIP
Max Lane memberikan penekanan istimewa pada saling hubungan antar kesadaran untuk mengadakan aksi massa politik dengan pemahaman dan pengertian kaum progresif terhadap sejarah dan kebudayaan bangsa.
Ini disebabkna karena dalam waktu panjang periode Orba, hanyalah penguasa yang punya monopoli untuk menentukan sendiri, apa itu dan bagaimana yang dimaksudkan dengan sejarah dan kebudayaan nasional.
Ketiadaan kesadaran dan pemahaman hakiki terhadap sejarah dan kebudayaan bangsa yang sebenarnya, menyebabkan ketiadaan kesadaran tentang arti penting dan perlunya aksi massa politik untuk mengubah Indonesia menjadi suatu bangsa yang benar-benar sedar akan identitasnya sebagai bangsa dan negara yang bebas dan demokratis.
Ketiadaan kesadaran itu pula yang menyebabkan fragmentasi di kalangan kaum progresif sehingga kekuatan mereka terpencar-pencar dan ketiadaan persatuan dan kesatuan aksi politik, yang bertujuan suatu solusi yang fundamental.
Ketiadaan suatu ideologi nasional yang progresif menjelaskan tentang ketiadaan resistensi terhadap neo-liberalisme. Menjelaskan pula, mengapa semua parpol-parpol mainstream di DPR, boleh dikatakan samasekali tidak menentang masuk dan berdominasinya neo-liberalisme di Indonesia.
Max Lane: Suatu konsep (dan gerakan) sosial-demokrasi, dewasa ini tidak ada di Indonesia. Sebabnya: Lagi-lagi karena fragmentasi di kalangan aktivis dan kekuatan progresif.
Di lain fihak, kesadaran untuk memiliki pemahaman dan pengertian yang benar dan obyektif mengenai sejarah dan budaya Indonesia, berkembang di kalangan generasi muda. Ini a.l dapat dilihat dari kegiatan para sejarawan muda seperti a.l Aswi Warman Adam, Bonnie Triyana, dll. Arus ini sedang terus mengalami perkembangan, bagaimanapun lika-liku dan rintangan yang harus dilaluinya. Hal ini dapat dilihat antara lain dari banyaknya penulisan-penuisan baru mengenai peristiwa sejarah dan budaya Indonesia sebelum dan sejak Reformasi, yang jumlahnya mencapai 2000 lebih.
* * *
Ceramah yang berlangsung mulai jam 15.30 sampai jam 17.00 memang terlalu singkat untuk suatu tema yang begitu besar, yang menyangkut haridepan bangsa Indonesia, dalam perjuangannya untuk mencapai emansipasi nasional.
Apa yang dikemukakan diatas, adalah kesan-kesan yang jauh dari lengkap mengenai ceramah tsb. Namun, cukup kiranya untuk merangsang pembaca membaca sendiri buku Max Lane tsb.
Aku minta pada Max Lane untuk menuliskan ceramahnya itu menjadi suatu makalah yang perlu disiar-luaskan. Max setuju ide ini dan berjanji akan membuatnya.
Betapapaun singkatnya waktu ceramah Max Lane dan tanya-jawab yang berlangsung dengan hadirin (sekitar 50 orang lebih Indonesianis, pakar-pakar,serta beberapa mahasiswa Indonesia dan asing), padaku semakin tumbuh keyakinan, bahwa membebaskan diri dari 'pembodohan' berfikir bangsa sebagai akibat supresi mental pada periode Orba, adalah kunci dan solusi untuk terlaksananya tujuan-tujuan yang hendak dicapai oleh gerakan REFORMASI DAN DEMOKRATISASI.
* * *

0 comments:
Post a Comment