Thursday, September 25, 2008

Tanggapan: Penampilan Grup paduan Suara 'Wakhu Bim' di Bonn

Mengesankan! Andai boleh tahu lagu yang dinyanyikan secara lebih spesifik lagu rakyat (etnis) apa ya? Apakah diaransir dari tradisi nyanyian yang asli atau sebuah komposisi baru yang berorientasi pada konsep musikal kelompok etnis tertentu? Sekiranya ada infonya, kira-kira kriteria penilaiannya seperti apa ya. Selamat kepada semua penyanyi, dan terimakasih kepada Yanti Mirdayanti.

Salam,
Rizaldi

Bung Rizaldi,

Terima kasih atas email dan responnya. Sayangnya saya tidak memiliki daftar lagu-lagu yang dinyanyikan grup Wakhu Bim, baik ketika di Graz, Austria maupun di Bonn, Jerman. Ketika menjadi MC, saya menerjemahkan langsung secara lisan semua informasi dari tim Wakhu Bim. Jadi, semuanya tidak saya catat. Tetapi saya bisa secara umum menjelaskan sedikit tentang lagu-lagu yang ditampilakn berdasarkan penilaian saya sendiri. Lagu-lagu rakyat yang ditampilkan Wakhu Bim, saya kira, berkomposisi asli dan merupakan kumpulan lagu-lagu rakyat yang memang sudah exist sejak dulu di seantero Irian Jaya. Lagu-lagunya pun sangat multietnis, disuguhkan dalam berbagai bahasa etnis yang ada di Irian Jaya, seperti bahasa Dani, dsb. Beberapa lagu yang berasal dari daerah pegunungan di Irian Jaya tidak lupa mereka tampilkan. Penampilan grup Wakhu Bim yang sama sekali tidak hingar-bingar-komersial atau sederhana dan sangat merakyat (asli) ini lah yang saya kira telah menembus sukma para hadirin di kota Bonn. Kesan naturalnya begitu menonjol. Musiknya bebas dari yang namanya kabel atau electrical-music-instruments. Para penyanyinya bebas make up dan begitu lugas, tetapi Ya Tuhan, suara mereka hebat-hebat. Yang soprano begitu melengking tinggi, tetapi dengan irama yang memang asli. Ketika membawakan lagu dari daerah pegunungan Irian Jaya, saya sebagai orang Indonesia, bisa merasakan memang lagu yang dibawakan bagaikan membawa irama dan suara pegunungan. Demikian pula ketika lagu yang dibawakan sedikit dari daerah lembah atau 'agak' perkotaan, kita pun merasakan suara dan irama yang dari sana. Saya juga kebetulan orang paduan suara (dulunya). Saya punya kesan, betapa para peserta paduan suara Wakhu Bim lahir dengan suara natural mereka, walaupun sebelum olimpiade mereka sempat digodok dulu selama 8 bulan. Menyanyi untuk mereka adalah aktivitas hidup sehari-hari dan datang dari darah dan bawah kulit mereka. Itu benar-benar bisa dirasakan oleh para penonton (oleh para juri juga, tentu saja!) atau walaupun oleh orang awam musik sekali pun. Coba, baru dua atau tiga lagu saja yang dibawakan, langsung hadirin di Bonn sudah mengerubuti saya (sebagai MC) menanyakan CD-nya! Mereka sangat ingin memiliki CD Wakhu Bim. Saya kira, kriteria penilaian di Olimpiade Graz, Austria pun lebih ke hal-hal yang telah saya ungkapkan tadi: lagu-lagu daerah harus berasal dari lagu daerah asli yang telah ada dalam budaya rakyatnya sejak dulu. Juga (mungkin) harus dinyanyikan oleh rakyat asli dari daerah tersebut (seperti halnya para peserta Wakhu Bim). Gerakan badan/tarian Wakhu Bim selama membawakan lagu-lagu sangat kental gerakan tarian suku-suku di Irian Jaya. Gerakan tarian disesuaikan dengan gerakan dari mana lagu tersebut berasal. Jadi, kaharmonisan antara lagu-lagu dan gerakan Wakhu Bim sangat kuat dan asli. Yang kriteria lainnya kurang bisa saya perkirakan. Sebaiknya mungkin dihubungi saja
koordinator Wakhu Bim di Jayapura (bisa kontak melalui Pemda-nya, lihat berita website mereka yang telah saya sertakan).

Terus terang, saya bermimpi untuk menghadirkan kembali Wakhu Bim ke Jerman dan kali ini untuk konser akbar di berbagai kota, bukan hanya di Bonn saja. Agustus kemarin mereka datang ke Bonn atas undangan badan misi gereja Jerman dan beberapa institusi Jerman lainnya, karena mereka sedang kebetulan berada di Austria. Sedangkan di negara-negara Eropa lainnya mereka diundang oleh Kedutaan-Kedutaan Indonesia (KBRI) dan Radio Nederland. Ada satu Ibu Ida (nama belakangnya tidak ingat) yang turut mendampingi Wakhu Bim selama di Eropa. Ibu Ida ini merupakan salah satu dari tim Juri tetap perlombaan nasional Paduan Suara di Indonesia. Dan Ibu Ida lah salah seorang dari tim juri Indonesia yang telah merekomendasikan grup Wakhu Bim untuk tampil di Graz mewakili Indonesia. Sebuah pilihan yang sangat jitu! Barangkali bisa ditanyakan langsung ke Ibu Ida ini. Saya tak punya alamatnya, tapi dia tinggal di Jakarta. Atau mungkin bisa saya tanya Daniel nanti untuk info lebih lengkapnya. Daniel bisa menghubungkan saya dengan contact person dari tim pengundang Jerman kemarin.

Maaf kalau jawaban saya ini kurang mengena. Tapi mudah-mudahan bisa saya tambahkan nanti kalau sudah ada info tambahan lainnya.

Salam, Yanti

0 comments:

{ Template Design by Elque 2007 }