Tanggapan: Di Balik Nama Saya .....
Kolom IBRAHIM ISA
Senin, 15 September 2008
---------------------------------
JANGAN LUPAKAN SEJARAH!
Demikianlah pesan sangat berharga yang disampaikan oleh banyak historikus jujur dan obyektif, oleh pemimpin-pemimpin bangsa kita. Teristimewa oleh Bung Karno. Beliau selalu mengingatkan kita: JANGAN LUPAKAN SEJARAH! Benarlah adanya, tanpa mengenal sejarah, terutama sejarah bangsa sendiri, maka kesadaran berbangsa, rasa cintai pada rakyat dan negeri yang indah ini, kiranya sulit untuk ditegakkan. Celakanya, selama 32 tahun lebih rezim Orba telah memulas, memanipulasi dan memelintir sejarah bangsa kita.
Pada tempatnya historikus generasi muda, peneliti utama LIPI, Dr Aswi Warman Adam, mengingatkan masyarakat, sbb:
Penulisan sejarah Indonesia dalam buku-buku sejarah penuh dengan rekayasa dan upaya ini telah dilakukan pemerintah Orde Baru sejak awal berdirinya rezim sampai jatuhnya pemerintahan Soeharto."Dalam hal ini Nugroho Notosusanto dan Pusat Sejarah ABRI sangat berperan besar dalam penulisan rekayasa sejarah itu," (Kompas Online, 12 Sept 2008. "Menurut hemat saya, kata Aswi, meskipun tim yang diketuai Nugroho mengerjakan penelitian kilat tersebut, inisiator atau penanggungjawab buku itu adalah Jenderal AH Nasution,"
Pada umumnya pemelintiran sejarah, rekayasa fakta-fakta kejadian, sengaja dibuat untuk mengabdi dua tujuan: 1. Memberikan legitimasi terhadap persekusi dan pembantaian masal 1965-1966 dst yang dilakukan penguasa. 2. Memberikan legimitasi atas eksistensi rezim Orba, yang dibangun atas dasar KUP MERANGKAK yang dilakukan oleh Jendral Suharto terhadap pemerintahan Presiden Sukarno.
Itulah sebabnya tidak mudah untuk mengungkap peristiwa-peristiwa yang sesungguhnya terjadi dalam tahun-tahun 1965-66-67 dst. Karena begitu banyak dan luasnya dari penguasa, 'aparat', birokrasi, parpol dan elite yang terlibat dalam peristiwa tsb. Mereka-mereka itu sejak 1965 sampai sekarang membenarkan, mensahkan pelanggaran HAM terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah RI, demi kepentingan kekuasaan, dan demi melanggengkan posisi mereka sebagai penguasa.
* * *
YANTI MIRDAYANTI, kenalan dan sahabat baikku, adalah seorang sarjana muda yang kini bekerja sesuai kesarjanaannya di Bonn, Jerman. Di bawah ini kusiarkan kembali kisahnya mengenai sekelumit sejarah keluarganya. Kisah dari suatu keluarga 'eks-tapol', korban persekusi Orba setelah Peristiwa 1 Oktober 1965. Kisah-kisah seperti yang diceriterakan Yanti Damayanti, merupakan puncak dari suatu 'gunung és' cerita-cerita serupa menyangkut kekejaman, kebiadaban yang berlangsung sekitar persekusi yang berlangsung sesudah peristwa G30S, terhadap sejuta sampai tiga juta warganegara yang tak bersalah.
Seperti yang dikisahkannya, ayah Yanti Mirdayanti dipenjarakan selama lima tahun, hanya karena ia seorang penyanyi yang bergabung dengan LKRA, sebuah organisasi kebudayaan rakyat Indonesia yang dituduh sebagai organisasi kebudayaan PKI. Ibu Yanti yang baru saja melahirkan putrinya (Yanti), dipaksa menghidupkan dan mendidik lima orang anaknya, tanpa kepala keluarga yang meringkuk di penjara rezim Orba.
Sekelumit kisah Yanti mengungkap kesewenang-wenangan penguasa terhadap keluarga mereka.
Silakan baca terus kisah YANTI MIRDAYANTI.
(text: DI Balik Nama Saya ....)

0 comments:
Post a Comment